alt

Starberita - Bireuen, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS: Alhujurat:10)Nah……. dalam keseharian  kita sudah sangat sering mendengar kata ukhuwah yang berasal dari bahasa Arab dengan bentuk masdar (kata asal) akhu yang berarti saudara, termasuk di dalamnya saudara kandung, seayah, seibu, atau sesusuan.
Dalam penggunaannya, kata ukhuwah selalu digabungkan dengan kata islamiah, sehingga menjadi ukhuwah islamiah. Ini memperjelas pengertian bahwa persaudaraan yang dibangun adalah berdasarkan prinsip Islam. Ajaran ukhuwah dalam Islam bermakna suatu ikatan persaudaraan antara dua orang atau lebih berdasarkan keimanan yang sama, kesepakatan atas pemahaman serta pembelaan kepada Islam sebagai agama yang diridhai Allah.

Asas ajaran ukhuwah adalah firman Allah dalam Surah Alhujurat ayat 10 yang dikutip pada awal tulisan ini menjelaskan bahwa iman menghendaki terwujudnya persaudaraan yang hakiki di antara orang beriman yang terikat oleh hubungan kekerabatan.

Patut dihargai apa yang dilakukan Grup ASOKAYA dalam kegiatan Miladnya Ke-1 merupakan progam rutinitas mereka dalam meningkatkan ukhuwah Islamiah dengan mengacu firman Allah sebagaimana termaktub dalam Al Quran Surat  Alhujurat ayat 10 serta ajaran ukhuwah yang brsumber dari Hadis Nabi.

Terlebih lagi menjelang masuknya bulan Ramadhan yang yang sudah diambang pintu salah satu hikmah pensyariatannya adalah mengatur tentang hubungan silaturahmi dan ukhwah islamiah. Bahkan dalam ajaran Islam juga mengaitkan bulan Ramadhan dengan silaturahmi, yakni tidak diterima pahala puasa seseorang yang memutuskan tali silaturahmi.

Selain dari ayat Alquran, ajaran ukhuwah juga bersumber dari beberapa hadis Nabi Muhammad SAW, antara lain, “Orang mukmin itu bagaikan satu jasad bagaikan satu bangunan yang saling mengukuhkan” atau hadis lain, “Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.

”Mungutip ayat dan hadis di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada bentuk ukhuwah yang paling baik dikembangkan oleh umat Islam selain ukhuwah islamiah, karena ini adalah ikatan yang hakiki dan kuat, mengungguli semua jenis ikatan lainnya. Ikatan lainnya hanyalah bersifat sarana ukhuwah, tapi tidak dapat dijadikan dasar yang kuat bagi bangunan persaudaraan.

Kita menyadari adanya Perbedaan yang terdapat di antara manusia,perbedaan seperti fisik, ideologi, dan sebagainya hanya dapat dijembatani dengan iman kepada Allah. Begitu seseorang menyatakan dirinya beriman, saat itu juga ia sudah terikat persaudaraan dengan orang yang seiman. Iman adalah tali pengikat yang lebih kuat dari ikatan apa pun, termasuk ikatan keturunan, kekerabatan, kesukuan, dan kebangsaan.

Dalam mewujudkan ukhuwah, ada beberapa faktor yang perlu diterapkan dalam kehidupan umat Islam. Pertama, saling berkunjung dan berkumpul karena mengharap ridha Allah, bukan semata-mata untuk urusan duniawi. Mereka yang beriman itu saling bertemu untuk kegiatan yang bermanfaat, saling tolong-menolong dalam mencapai keselamatan, dan saling menasihati dalam kebenaran. Langkah tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ajaran keimanan.

Adapun yang kedua, bersikap baik kepada tetangga, tamu, teman, saudara, dan masyarakat lainnya. Ini merupakan salah satu indikasi persatuan dan kekompakan dalam masyarakat dan salah satu dari keutamaan yang diajarkan Islam. Memuliakan saudara kita juga merupakan ciri kesempurnaan iman seseorang.

Dan yang ketiga adalah tidak saling menjatuhkan, jauh dari memfitnah, menghindari perselisihan yang membawa efek negatif dan memperkecil perbedaan yang mengarah kepada permusuhan, di samping memelihara kata-kata yang merugikan pihak lain.

Sesuai tarikh ( sejarah ),ajaran ukhuwah diterapkan dengan sangat berhasil oleh Rasulullah, khususnya ketika Nabi Muhammad SAW mulai membangun masyarakat Islam di Madinah. Pada masa itu umat Islam sudah tampak heterogen, terdiri atas berbagai suku dan agama. Untuk merekatkan hubungan antara yang satu sama lainnya, Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan Ansar, sehingga lambat laun tercipta ukhuwah islamiah di kalangan umat Islam Madinah.

Untuk mewujudkan ukhuwah islamiah, para pemimpin Islam, ulama, tokoh masyarakat, dan para cendekiawan hendaknya mempunyai kesamaan visi dalam tiga hal, yaitu wawasan keagamaan, wawasan kemasyarakatan, dan wawasan universal.

Kesamaan wawasan keagamaan adalah persamaan wawasan bahwa agama Islam adalah agama Allah yang dibawa Rasulullah dan disampaikan kepada umat dalam wujud Alquran dan sunah yang harus dipahami melalui kaidah, metode, dan jalur tertentu yang standar dan dapat dipertanggungjawabkan secara syar’iat.

Kesamaan wawasan kemasyarakatan adalah kesamaan wawasan bahwa Islam mengakui adanya kelompok manusia, bangsa, suku, kabilah, dan sebagainya. Satu sama lain harus saling mengenal (taaruf) dan mengakui eksistensi masing-masing. Kesamaan wawasan universal adalah kesamaan wawasan bahwa umat Islam di seluruh dunia, walaupun berbeda bangsa dan negaranya, adalah bersaudara sebagai umat yang satu. Hal itu sesuai dengan firman Allah dalam Surah Alhujurat ayat 13,“Kami telah menjadikan manusia berbangsa-bangsa, bersuku-suku, agar mereka saling mengenal satu sama lain. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa kepada-Nya",ujarnya.(HER/MBB)

Beri Komentar


Security code
Refresh


>