Starberita - Jakarta, Bendahara Umum DPP Partai Demokrat Handojo Slamet Mulyadi resmi mundur dari jabatannya. Banyak spekulasi muncul, walau Demokrat mengatakan kalau mundurnya Handojo karena sakit.
Bagi pengamat politik dari UI Boni Hargens, mundurnya Handojo adalah bukti payahnya kaderisasi di tubuh partai terutama Partai Demokrat."Bagaimana kader-kadernya tidak saling akur, semua disatukan oleh figur SBY. Bukan oleh idiologi atau konstitusi partai," jelas Boni kepada INILAH.COM, Kamis (8/8).

Menurut dia, tidak beresnya persoalan partai di Indonesia karena terlalu bergantung pada sosok pribadi. Itu yang terjadi pada Demokrat."Dari dulu tidak ada harmoni. PD hanya kuat selama SBY kuat," tutur Boni.

Dimasa akhir pemerintahan SBY, dia menilai kalau Demokrat sudah menunjukkan jati diri sebenarnya. Apalagi, tidak ada yang bisa diandalkan lagi selain SBY. Sementara, SBY sudah tidak berkuasa lagi di tahun-tahun berikutnya."Sekarang SBY mau selesai, jelas saja wajah asli Demokrat mulai tampak," tandas Boni.Handojo memilih mundur dari jabatannya sebagai Bendum DPP Partai Demokrat. Dia digantikan oleh wakilnya, Dr.Indrawati Sukadis.Sebelumnya, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengangkat pemilik perusahaan farmasi Tempo Group, Handojo Selamet Mulyadi, sebagai bendahara umum dalam struktur baru menggantikan Sartono Utomo.

Tempo Group atau PT Tempo Scan Pacific (TSP) adalah perusahaan induk (holding company) yang memiliki beberapa perusahaan farmasi antara lain PT Tempo Scan Pacific , PT Supra Ferbindo Farma, PT Indonesian Pharmaceutical Industries, dan sebagainya.

TSP didirikan pada Mei 1970 dengan nama lama PT Scanchemie, oleh PT Perusahaan Dagang Tempo dan PT Indonesian Pharmaceutical Industries. Produk-produk farmasi yang diproduksi oleh TSP antara lain, Bodrex, Bodrexin, Hemaviton, Hemaviton Jreng, dan sebagainya.(INC/MBB)



Beri Komentar


Security code
Refresh

Hot News Medan - Nasional


>