Starberita - Jakarta, Mekanisme baru pada penerapan kurikulum 2013 akan diserahkan ke sekolah dan pemerintah hanya memberikan standar isi. Akan tetapi hasil penelitian pemerintah di lapangan, problema terberat yang terjadi ialah tidak mudah untuk menyusun kurikulum sendiri yang merujuk dengan standar kompetensi guru sekarang.
"Di Jakarta memang tidak ada masalah, namun kita lupa bagaimana yang terjadi di Sabang dan Merauke. Akhirnya yang terjadi mereka hanya memfotokopi. Bahkan mereka membeli Lembar Kerja Siswa (LKS) yang buruk seperti adanya isu pornografi di LKS Bang Maman," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud Khairil Anwar Notodiputro, di Jakarta, Rabu(26/12).

Oleh karena itu ke depannya, pada kurikulum baru akan ada pengendalian isi yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. "Pendekatannya agak revolusioner, dulu kita pendekatan mata pelajaran, sekarang pendekatannya kompetensi. Jadi mata pelajaran hanya sumber dari kompetensi. Dulu mata pelajaran ini hasilkan kompetensi apa, sekarang dibalik, menggunakan pendekatan induktif dimulai dari mengamati setelah mengamati anak diminta bertanya mengapa pertumbuhan tanaman ini beda dengan lain, lalu mengasosiasikan. Anak belajar mengomunikasikan lewat bertanya," jelasnya.

Khairil menambahkan, implementasi kedua dari kurikulum baru ialah peningkatan efektivitas belajar mengajar guru. "Kalau anak belajar suatu kompetensi tertentu, bagaimana ke depannya supaya jamnya lebih singkat untuk mencapai kompetensi. Jadi bagaimana proses pembelajaran harus dibuat sedemikian rupa agar lebih efektif. Dan ini menyangkut guru maka guru harus diperbaiki," jelasnya.

Selain itu, kurikulum akan mengatasi berbagai persoalan yang belum teratasi sehingga nantinya kurikulum akan mendeteksi berbagai persoalan apa yang terjadi didalam kelas. Dan implementasi ketiga ialah masalah kesinambungan yakni pemetaan seperti apa lulusan sekolah dasar itu nantinya dan peningkatan kemampuan mereka secara bertahap.

Anggota Panja Kurikulum Komisi X DPR Raihan Iskandar berpendapat, yang menjadi kekhawatiran kekhawatiran DPR adalah yang menjadi korban terberat dari penerapan kurikulum baru nanti adalah calon siswa SD dan guru kelas satu SD karena ada masa transisi dari taman kanak-kanak ke SD yang akan menjalani kurikulum baru. Masalahnya adalah, standar kompetensi di taman kanak-kanak itu tidak seragam, tidak semua TK menargetkan siswanya sudah mampu membaca dan menulis. Maka dari itu seharusnya Kemendikbud membuat sisten terintegrasi antara materi pelajaran di pendidikan anak usia dini ke tingkat sekolah dasar agar siswa tidak kaget.(OKZ/MBB)


Beri Komentar


Security code
Refresh