Starberita - Bireuen, Menelusuri perbukitan Cot Keujruen, Desa Blang Seupeung, Kecamatan Jeumpa, Kabupatern Bireuen, di sana ada hamparan batu nisan yang memadati areal perkuburan dengan lokasi curam dan tinggi yaitu kibrab Raja Jeumpa yang merupakan sosok Raja yang butuh kepedulian semua pihak terutama Pemkab Bireuen.
Dalam menelusuri kuburan raja di Bireuen itu memang membutuhkan kehati-hatian sebab bila kurang berhati-hati menaikinya, bisa saja terpeleset bahkan terseret jatuh di badan bukit yang dipenuhi semak belukar dengan puluhan batang kayu besar mengelilinginya dan bahkan bisa menewaskan.

Suatu hal yang sangat menyedihkan di areal perkuburan yang terlihat, hanya gundukan batu berukuran sedang dan besar diselingi beberapa nisan yang menandakan bahwa di sanalah letak kuburan masyarakat setempat.

Lantas yang membuat Andalas menginjakkan kaki dan menelusuri hingga ke Desa Blang Sepeng, bukanlah sekedar berziarah, melainkan menelusuri dari dekat sejumlah kuburan bernilai sejarah yang hingga detik ini belum sepenuhnya memperoleh perhatian dan kepedulian aparatur pemerintahan setempat serta masyarakat Kabupaten Bireuen.

Di kawasan areal pekuburan yang masih terisolir karena memang belum adanya pemugaran akibat tidak adanya Taman Makam Pahlawan di Bireuen terlihatlah sepetak Makam Raja Jeumpa yang menurut sejarah Aceh merupakan anak dari Raja Abdullah yang berasal dari India belakang masuk ke Kuala Jeumpa  melalui pelabuhan untuk melakukan perdagangan masa itu yakni pada abad ke VII atau VIII. Akhirnya sang raja anak dari Abdullah bersama istrina Ratna Kumala menetap di sana dan dinobatkan menjadi raja.

Dalam sebuah literatur yang dituliskan Tgk Ibrahim Abduh, dikisahkan ayahnya Raja Jeumpa yaitu Raja Abdullah menamakan negeri yang dirajainya di kala itu dengan nama ”Jeumpa” sesuai dengan nama negeri asalnya Khampia yang artinya harum, wangi dan semerbak. Sang raja memiliki dua anak, yakni Siti Geulima dan Raja Jeumpa.
 Setelah dewasa Raja Jeumpa memimpin kerajaan di sekitar perbukitan Peudada hingga Pante Krueng Peusangan. Istanannya terletak di Blang Seupung yang dulunya terkenal sebagai bandar pelabuhan besar dan kebenaran masa kejayaannya diakui benar dengan peninggalan benda-benda di sekitar lokasi tersebut.

Berdasarkan ikhtisar Raja Jeumpa yang ditulis oleh Ibrahim Abduh yang disadurnya dari Hikayat Raja Jeumpa, membuktikan hasil observasi di sekitar daerah yang diperkirakan sebagai tapak mahligai Kerajaan Jeumpa ditemukan cermin pintu atau jendela setebal enam mili, cincin yang bila dipakai bisa muat dijari kaki,  anting sebesar gelang tangan, tali leher, serta kolam pemandian bagi orang-orang istana.

Namun demikian sekelumit kisah ringkas di atas sana semakin langka diketahui dan bahkan nama pelaku sejarah itu tak diketahui oleh khalayak ramai kususnya di Bireuen. Kalaupun pernah mendengar hanya sebatas gelar namanya saja yakni Raja Jeumpa, sedang sejarah, silsilah dan bahkan makamnyapun terabaikan begitu saja.

Sangat-sangat menyedihkan, ketika menyambangi makam Raja Jeumpa yang terkenal berani dan selalu memperjuangkan kebenaran pada zamannya itu kini hanya seonggok batu berukuran besar yang membuktikan bahwa memang sebuah makam. Sedangkan kondisi dan situasinya makam cukup jauh dari kesan terawat.

Dalam menyusuri perbukitan Cot Keujruen, di sana masyarakat mengemukakan bahwa mereka mengakui bahwa selama ini masyarakat secara bersama bergotong-royong membersihkan areal kuburan yang telah disatukan dengan pemakaman masyarakat umum di kawasan desa itu dan belakngan ini acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dilaksanakan di areal pekeburan oleh Muspika Kecamatan Jeumpa.

Menurut masyarakat di sana ada lima Camat dalam wilayah Bireuen kususnya Camat di wilayah Barat sangat berhasrat untuk memugarnya namun saat ini ada di antara mereka yang tidak Camat lagi dan diharapkan progam itu diteruskan. Amin.

Menurut pengamatan, hanya posisisnya saja yang membedakan makam raja itu dengan khalayak lainnya. Letaknya tepat berada di puncak bukit dengan ketinggian lebih kurang 15 - 20 meter. Makam Raja Jeumpa ini yang tertinggi dari barisan kuburan lainnya, kata Ibrahim Ahmad.

Menurut warga, seingat mereka sejak ia kecil keberadaan makam itu telah diketahuinya dari cerita para leluhur sebelumnya. Akan tetapi merekapun tak begitu jelas mengisahkan iktisar sejarah tersebut kepada pihak luar. ” Sejak saya kecil sudah diberitahukan oleh orang tua dan kakek nenek saya, namun cerita persisnya saya tak paham, ” Sebut salah seorang warga .

Selain itu ada beberapa makam ulama lainnya yang berada di sekeliling makam Raja Jeumpa, dan yang membedakannya dengan kuburan biasa adalah ukuran batu yang menandakan nisan jauh lebih besar dari normalnya, sekira ukuran badan remaja.

Begitupun, mereka mengakui ukuran batu itu sejalan dengan waktu selama ratusan tahun lalu. Begitu pula dengan usia batang pohon berukuran besar yang menaungi ratusan kuburan di perbukitan tersebut ada yang menyebutkan sudah ada penghuninya.

Konon masyarakat mengaku pernah ada orang yang ingin menebangnya untuk memanfaatkannya, namun tak menunggu lama orang dimaksud langsung di dera penyakit aneh yang cukup menyedihkan.“Kami heran dengan kondisi itu tapi mungkin itulah pertanda bahwa tak boleh sembarangan menebang kayu di sekitar perkuburan itu walaupun sudah membesar. “ sebut warga di sana.

Tgk M Thaleb M tokoh warga setempat juga penah mengisahkan bawa ada seorang wanita di desanda itu pernah mencoba mengambil ranting-ranting kayu di dekat pohon di kawasan perkuburan itu untuk keperluan memasak, Namur apa lacur hal itu juga tak terealisasi dengan baik disebabkan keanehan dan keganjilan terjadi, Namur Pak Thaleb tidak menyebut keanehan apa yang dirasakan wanita pencari kayu itu.

Menurutnya, sejak saat itu bagi masyarakat yang berdiam di Desa Blang Seupung menganggap kuburan – kuburan itu punya keanehan dan jika boleh dikatakan keramat sehingga tanpa disuruh mereka setiap saat melakukan gotongroyong untuk membersihkan perkuburan umum itu, Namur mereka berharap Pemkab Bireuen sesegera mungkin  memugar dan menyelamatkan makam Raja Jeumpa yang Sangat berjasa itu dan jira perlu buatlah serbuah Taman makam pahlawan di Bireuen apalagi itu merupakan situs sejarah yang memang patut diketahui generasi penerus bangsa.

“Kami berharap Pemkab Bireuen perlu menyelamatkan situs sejarah yang mulai hilang dan bahkan punah, apalagi terhadap generasi-generasi mendatang,” Sebut Pak Thaleb M pemuka masyarakat di wilayah Bireuen.(HER/MBB)

Beri Komentar


Security code
Refresh


>